Puisi

Ue o muite arokou

Ue o muite arukou namida ga kobore naiyouni omoidasu haru no hi hitoribotchi no yoru


Ue o muite arukou
 nijinda hoshi o kazoete omoidasu natsunohi hitoribotchi no yoru

Shiawase wa kumo no ueni
Shiawase wa sora no ueni

Ue o muite arukou namida ga kobore naiyouni 

Nakinagara aruku hitoribotchi no yoru


Omoidasu aki no hi 
hitoribotchi no yoru


Kanashimi wa hosino kageni
Kanashimi wa tsukino kageni

Ue o muite arukou namida ga kobore naiyouni nakinagara aruku hitoribotchi no yoru

“Aku ingat di malam musim semi 

aku berjalan sendiri mendongak keatas supaya air mata ini tidak mengalir.
Aku teringat di musim panas aku berjalan sendiri memandang keatas menghitung bintang

Kebahagiaan berada diatas awan Kebahagiaan berada diatas langit

Aku memandang keatas supaya air mata ini tidak mengalir

Aku berjalan sambil menangis sendiri di malam hari

Teringat aku sendiri di malam musim gugur
Kesedihan adalah bayangan bintang
Kesedihan adalah bayangan rembulan

Aku berjalan sendiri memandang keatas supaya air mata ini tidak mengalir, aku berjalan sambil menangis sendiri di malam hari”

sebuah lagu dari : Kyu Sakamoto 

Cerpen

Mencuri nama

Kasih….

Yang ku temukan saat itu adalah sebuah nama, nama yang  bukan ku dapat dari jabat tangan dan saling perkenalkan diri, tapi sebuah nama yang tak sengaja ku curi dari mulut mereka kala menyapamu (si pemilik nama). Entah mengapa nama itu tercecer, terjatuh di hadapanku pula.

Nama itu lantas ku tulis di tapak tangan. Aku buru-buru saat itu, tergesa mencari pena dan mencatatnya agar nama itu tidak ku lupa.

Tangan kukepal lalu pendamkan dia di saku celana. Takut jika saja orang-orang melihatku mencuri nama yang tidak sengaja kudengar itu, lantas mereka meneriakiku maling. 

Aku lalu beranjak pulang dengan tergesanya. Aku tak sabar memandang namamu itu, setelah lama sekali aku berusaha untuk percaya diri bertanya siapa namamu walau tak kunjung juga aku bernyali. 

Dan tiba-tiba namamu itu datang sendiri padaku. bukankah itu kesempatan emas yang tidak akan dilewatkan.

Sial, hujan turun deras, ketika aku berpikir untuk menunggu sejenak, namun aku yang begitu tak sabarannya lantas berlari saja di tengah hujan.

Tiba di rumah badanku basah kuyup.

ah, sial 

Selama di perjalan pulang, aku tidak menyadari bila namamu yang ku tulis di telapak tanganku itu luntur tersapu hujan.

Aku berusaha melihat sisa-sisa bekas tinta pena yang luntur di garis tangan . Namun sia-sia

Dalam kekecewaan itu aku bersyukur setidaknya namamu pernah berada di garis tanganku, walau sebagai tinta.

Baiknya aku pahami. Bahwa dalam setiap garis tangan, ada nasib yang tergambar di sana, entah terbaca taupun tidak. Sama seperti tinta yang luntur di tangan ku. 

Tulisan

Seorang adik kelas

Dik, kau senang sekali membaca novel fantasi ya? Aku tidak banyak tau tentang novel-novel itu. Sejujurnya aku jarang sekali membaca novel. Harap maklum, bila wawasanku sempit mengenainya.

Dik, senang dengan aktor Johnny deep juga kah? aku sempat melihatmu mengambar rupanya, kebetulan aku senang ketika ia berperan sebagai karakter Willy Wonka, sempat juga aku bermimpi punya pabrik cokelat sama sepertinya. Kau juga begitu kah?

Kau suka mengambar karakter di film favorit yang kau tonton ya? aku kadang juga begitu, aku pernah mangambar tokoh Christine dan Phantom, tau cerita tentang. The Phantom of the Opera? tidak apa, memang sedikit yang berminat menontonnya di kalangan kampus kita.

Apa kau suka warna Biru dan Ungu? aku sering melihatmu mengenakan pakaian dengan nada warna itu, ngomong-ngomong Biru juga warna yang ku suka.

Heuheu

Tak apa, bila kau tidak tau, aku juga bukan kakak kelas yang populer di kampus.

Wajar saja.

Cerpen

Sajak

Ia adalah Sajak. Ia adalah mata dari pisau terbiasa diasah untuk menikam. Di antara kata, di antara kalimat, di antara bait. Sajak adalah serbuk-serbuk racun yang bertaburan dalam seloyang tanya. 

Sajak selalu terhunus, menunggu untuk diayunkan lalu sempurnalah ia. Menikam, mengoyak, mencabik. Tak peduli oleh tangan siapa ia terayun.

Sajak dahulu adalah sesembahan para penyair untuk memuja kecintaannya atau nasehat-nasehat berkesan orang-orang tua pada anak cucu mereka. Tapi sajak yang kini berbeda. Sajak yang lama telah terkubur bersemanyam dalam sempitnya ruang dalam kalbu. Berganti kini menjadi caki maki hinaan.

Sajak yang kini adalah pedang, adalah senjata adalah penghukum yang tidak main timbang menimbang. Tidak berima, atau pun berirama. Sajak kini adalah bisu.

lucu bukan bagaimana cacimaki bisa terucap dalam bisu?, tapi begitulah adanya. Mungkin saja kini bicara itu bukan saja dari bibir, tapi juga dari jemari.

Sajak, ku kenal ia cukup lama. Dahulu biasa kami bermain bersama. saling bercerita, berkeluh kesah dan seperjalan ketika pulang. Saat itu Sajak adalah matahari, yang bersinar yang tidak sedikitpun angkuh berada dalam dirinya. 

Tapi entah mengapa sudah lama kami tidak saling bertegur sapa. 

ah sudahlah, aku tak selera membicarakannya. karena ia bukan Sajak ku lagi. 

Baru-baru aku sadar, Sajak itu mungkin adalah sebuah kata mungkin juga sebuah Nama.

Cerpen

Kurasa tidakĀ 

Kurasa hujan tidak bisa disalahkan karena ia turun, lalu tidak sengaja mematahkan ranting pohon yang rapuh padahal ranting itu berencana tumbuh lalu melebarkan pucuk-pucuk daun yang siapa tau juga bakal ada bunga diantara cabangnya. 

Tidak, tentu ia sangat bersalah dengan derasnya mengguyur ranting itu tanpa ampun lalu menggugurkan daun-daun tua itu, jika ia ingin turun, mengapa tidak gerimis saja, itu cukup untuk membasahi tanah kering yang bertahun-tahun tidak diberi kesempatan untuk menghidupkan benih. 

Kurasa hujan sudah jatuh seperti biasa, secukupnya, seperti apanya yang seharusnya. Jika hujan turun perlahan, maka tidak tersapulah seluruh debu-debu yang melekat pada setiap benda yang diguyurnya.

Tidak, itu tidak cukup untuk menebus dosanya yang menghanyutkan ranting-ranting kecil dan menumbangan pohon-pohon tua.

Kurasa pohon tua dan juga ranting-ranting yang hanyut itu memang sudah seharusnya begitu, hanya saja hujanlah yang bernasib sial menanggung semuanya.

Tidak, memang hujanlah yang murni berniat menggerus semuanya, entah itu debu, ranting-ranting dan pohon tua karena ia tidak suka pada mereka.

Kurasa hujan mulai resah, karena semua berharap ia menjadi yang seperti orang-orang mau, datang untuk menghapus kemarau, tau datang saat semua orang sedang berada di dalam ruangan agar pakaian mereka tidak basah.

Tidak, ia adalah hujan, wajar saja semua menggantungkan harapannya pada hujan, ia yang diberi kuasa untuk tempat semua orang menggantungkan harapan padanya. tanah yang kering, ternak yang kehausan dan juga katak yang bersuara bising, semuanya. Ia mengemban tugas untuk mengabulkan semua harapan itu. jika ia tidak datang saat kemarau atau datang disaat semua orang berada di luar ruangan dan membuat pakaiannya basah, artinya hujan memang lalai dan teledor mengemban tugasnya.

Kurasa kita terlalu berharap hujan akan selalu sempurna sehingga kita patah hati karena itu. 

Tidak, tidak ada salahnya juga berharap tinggi dan bermimpi lalu patah hati…